Bertahanlah

Written on February 23, 2019 — 3 min read
image-Bertahanlah
image-Bertahanlah

Prologue

Bagaimana cara kita mengukur bahwa diri kita telah mencapai tahap ikhlas dalam mengerjakan suatu amalan atau kegiatan?

Pernah tidak kita kembali merenungkan dari semua episode kehidupan yang telah kita jalani hingga saat ini, ada berapa banyak hal yang kita sudah benar-benar ikhlas? Atau ternyata di masa lalu, kita masih meninggalkan banyak episode yang kita belum benar-benar selesai? Atau malah jangan-jangan kita belum bisa ikhlas dengan apa yang ada pada diri kita sendiri?

Apakah ikhlas adalah perasaan ringan yang dirasakan kala kita mendapatkan ujian atau cobaan?

Tentang Ikhlas

Perkara ikhlas itu memang lah sesuatu yang berat untuk dijalankan. Itu kenapa ikhlas merupakan kunci utama diterimanya suatu amalan dan terbukanya lapis-lapis keberkahan. Ikhlas itu bukan berarti ketika ditimpakannya suatu musibah, kita dengan mudah merasa ringan tenpa beban, biasa saja tak merasa sesak di dalam dada atau terbeban dalam jiwa. Mungkin perasaan itu merupakan titik yang harus dicapai kala kita ditimpa ujian, tapi dalam banyak hal ternyata bukan seperti itu jalan aturannya.

Kisah Ikhlas

Saya teringat ayat di dalam Al-Qur’an yang menceritakan kisah perjalanan Ibrahim ‘alaihissalam saat beliau diberikan cobaan harus meninggalkan istri dan anaknya, Ismail ‘alaihissalam, yang baru lahir di padang tandus tanpa pemukiman dan penghidupan. Ibrahim Allah perintahkan untuk meletakkan keluarganya di tengah-tengah padang dan bergegas melakukan perjalanan ke Palestina tanpa ada satu katapun yang Ibrahim ucapkan untuk istri dan anaknya yang ditindalkan. Karena memang perintah Allah demikian. Betapa pilu dan berat hati Ibrahim menjalankannya. Namun apakah Ibrahim tidak melaksanakannya? Beliau tetap tunduk pada perintah-Nya. Di kesempatan lain setelahnya Ibrahim tiba-tiba diberikan mimpi yang mana Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya, Ismail, padahal belum lama Ibrahim bertemu setelah perpisahan yang begitu lama semenjak beliau meninggalkannya di tengah padang tandus kala itu. Betapa berat Ibrahim melaksanakannya. Anak semata wayang yang beliau sayang, yang kerinduan pertemuan dalam hati pun belum hilang, beliau diperintahkan untuk menyembelihnya. Apakah Ibrahim merasa ringan tanpa beban? Dalam perasaannya yang tak karuan, Ibrahim tetap melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Dan kita tahu bagaimana kelanjutan dari kisah-kisah tadi dan hikmah-hikmah yang bisa kita pelajari. Poinnya adalah perasaan berat itu tidak menjadi ukuran bagi keikhlasan Ibrahim dalam menjalankannya. Dan yang perlu kita pahami bahwa keikhlasan itu tidak selalu tumbuh dari rasa ringan dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Ikhlas bisa tumbuh dari upaya-upaya berat mengalahkan nafsu yang menghantui hati dan tetap bertahan walaupun berat dalam menjalankan. Ikhlas adalah pengorbanan.

Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (09:41)

Kesimpulan

Jadi, walaupun kita masih merasa berat dirasa, bukan berarti kita tidak ikhlas. Justru itulah yang Allah lihat. Bagaimana pengorbanan kita untuk melawan rasa itu.

Bertahanlah. Walaupun berat. Jangan pernah ragu melakukan sesuatu. Walupun berat. Bertahanlah. Bila dengan melakukannya, Allah terasa semakin dekat dengan kita.

Dan salah satu cara terbaik untuk bertahan dalam keikhlasan adalah dengan bersyukur. Tentang bagaimana kita bisa melihat lebih banyak kebaikan-Nya dibanding dengan apa yang sedang kita hadapi untuk mendapatkannya.

Semoga Allah kokohkan dan lapangkan hati kita dalam menjalankan dari setiap ketentuan yang telah Dia tetapkan.

How do you like this article?
0

© 2024 hanihusam. All rights reserved.