Alasan Saya Lebih Memilih Menjadi Freelancer daripada Kerja Kantoran

Written on September 26, 2020 — 8 min read
image-Alasan Saya Lebih Memilih Menjadi Freelancer daripada Kerja Kantoran
image-Alasan Saya Lebih Memilih Menjadi Freelancer daripada Kerja Kantoran

Introduction

"Sekarang kerja di mana?"

Itu adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang bagi saya yang notabene bekerja sebagai freelancer. Pada dasarnya jawabanya sederhana, “Di rumah aja, hehe”. Dari jawaban itu saja akan menimbulkan banyak cabang pertanyaan dan asumsi yang harus diluruskan. Walaupun repot harus menjelaskan, tetapi saya bangga menjawabnya 😃

Sebelum tahun 2020 istilah WHF (Work From Home) atau Remote Work belum lah sepopuler seperti saat ini. Mungkin hanya segelintir orang yang terbiasa mendengar istilah tersebut. “Emang bisa ya kerja dari rumah aja?” (Red — Enggak kemana-mana tapi dapet duit). Barulah ketika pandemi Covid-19 ini datang istilah tersebut mulai terbiasa di masyarakat. Sebab hampir semua kerjaan kantoran dituntut untuk dilakukan dari rumah.

Background Story

Bagi Anda yang pernah membaca tulisan saya Bagaimana Saya Memulai Karir Sebagai Seorang Programmer dan Pecah Telor di Upwork ingat bahwa saya pernah menyinggung di mana awal saya memulai karir. Di sini saya akan melengkapinya.

Perjalanan ini dimulai sejak sebelum saya lulus kuliah, tetapi waktu itu saya sudah menikah. Waktu itu sekitar awal tahun 2019 saya menyandang status sebagai mahasiswa akhir yang sudah memiliki tanggungan keluarga. Saya mulai berpikir bagaimana saya bisa menafkahi keluarga kecil saya ini. Pekerjaan apa yang cocok untuk saya dengan kondisi; 1. Sudah menikah dan istri sedang mengandung, 2. Istri juga masih kuliah, 3. Mahasiwa akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Alhamdulillah, selagi saya mencari pekerjaan saya masih memiliki sedikit tabungan dan bulanan dari beasiswa untuk menghidupi saya dan istri.

Saya bimbang dengan jalur karir apa yang ingin saya tempuh. Menjelang menikah di tahun 2018 saya sudah terobsesi oleh Mas Rio Purba untuk menjadi desainer dan menghasilkan uang dari sana. Namun saya juga mempertanyakan nasib ilmu perkuliahan saya di Informatika mau dibawa kemana. Saya juga tidak merasa salah jurusan, walaupun kemampuan koding saya masih jauh dari layak waktu itu. Akhirnya saya memilih untuk menjadi desainer saja. Akhir 2018 saya mulai dengan mencoba magang di salah satu studio desain di Yogyakarta. Tetapi ternyata dalam prosesnya saya tidak berkesempatan untuk bergabung. “Berarti saya disuruh untuk fokus menyelesaikan kuliah”, gumam saya waktu itu. Baiklah, saya bertekat untuk fokus mengerjakan skripsi.

Di sela penatnya saya mengerjakan skripsi pikiran mencari kerja muncul kembali. Saya teringat ungkapan,

Peluang besar apa yang ada di depan, dikerjakan. Masalah passion mah pikir belakangan. Yang penting cuan.

Saya memiliki passion di bidang desain tapi peluang terbesar di sekitar saya saat itu adalah karir pemrograman. Akhirnya saya memberanikan untuk apply pekerjaan di bidang pemrograman dengan kemampuang koding yang minim.

Singkat cerita, dari berbagai perusahaan yang saya lamar saya diterima di sebuah startup baru hasil inkubasi dari Antler, Singapore. Kok bisa diterima? Padahal kemampuan koding masih minim. Ya, namanya rezeki. Rezeki kalau Co-Founder dan CEO perusahaan tersebut adalah teman saya, hehe. Jadilah saya yang diterima. Saya di sana sebagai seorang Full-stack Engineer dengan sistem remote. Hanya saya seorang diri yang bertanggung jawab mengurusi segala hal tentang IT.

Mantep enggak tuh? Anak kemarin sore langsung dikasih tanggung jawab sebesar itu.

Alhamdulillah, saya menikmatinya. Walaupun sangat berat tapi banyak sekali ilmu yang saya dapat dari kondisi tersebut.

https-pixabay.com/images/id-2261021

Namun pada akhirnya saya menyerah. Saya merasa tidak sehat dengan siklus waktu kerja yang saya jalani; seorang diri mengatasi semua kebutuhan IT perusahaan. Hanya 7 bulan saya berada di sana. Sebelum saya putus kontrak dari perusahaan tersebut saya sudah mulai untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain sebagai pengganti setelah saya resmi keluar.

Berbekal pengalaman yang sudah bertambah semenjak saya pertama bekerja di perusahaan lama saya memberanikan diri untuk mendaftar di beberapa startup ternama di Jakarta. Namanya belum rezeki, saya selalu terhenti di tahap akhir sebelum offering, yaitu interview user.

Desember 2019 resmi sudah saya menjadi pengangguran (lagi). Tapi saya tidak sepenuhnya menjadi pengangguran. Bagi Anda yang pernah membaca tulisan saya Pecah Telor di Upwork, di sana saya bercerita awal mula saya mengenal situs Upwork dan di akhir masa jabatan saya di perusahaan lama bertepatan saya mendapatkan “tangkapan besar” di Upwork.

Dari sanalah akhirnya saya memilih untuk fokus menjadi seorang freelancer. Tentunya ada beberapa faktor yang meyakinkan saya kenapa saya memilih jalan ninja menjadi seorang freelancer daripada kerja kantoran. Berikut akan saya paparkan beberapa alasannya.

Alasan #1 Saya Menyukainya

Seperti yang pernah saya singgung di atas bahwa saya terobsesi — memiliki keinginan— untuk bisa berkarir seperti Mas Rio Purba. Saya penasaran bagaimana rasanya berpenghasilan $ tapi kerja hanya dari rumah saja. Walaupun keinginan tersebut sempat tertimbun sebab peluang yang ada pada waktu itu tidak mengarahkan saya ke sana. Tapi pada akhirnya Allah memilihkan jalan bagi saya untuk menggali kembali keinginan tersebut. Dan di sini lah saya sekarang. Yang dulu saya penasaran kini saya sudah merasakan 😃

Alasan #2 Kondisi Keluraga

Saat ini istri masih kuliah dan kami sudah memiliki anak. Hal tersebut membuat saya tidak fleksibel jika harus kerja kantoran. 9–5 sangat tidak mungkin saya lakukan. Sebab saya harus membagi waktu saya untuk bersama anak di saat istri ada kelas yang mana waktu kuliahnya adalah waktu reguler pada umumnya, antara pagi hingga sore. Saya juga tipikal orang tua yang ingin memastikan tumbuh kembang anak sesuai dengan yang saya inginkan — Nabi ﷺ ajarkan—, jadi saya belum mau untuk mepekerjakan baby sitter atau semacamnya untuk menjaga anak ketika saya dan istri sedang ada keperluan.

Saya pernah mendiskusikan ini bersama istri apabila saya harus kerja kantoran bagaimana nanti dengan dia, kuliah, dan anak. Sempat disepakati tidak mengapa jika saya ambil kerja kantoran. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Saya tidak diterima di mana pun yang membuat saya semakin yakin jadi freelancer saja

Alasan #3 I Got My First Big Catch, at The Very Begining

Bagaimana tidak ketagihan, pekerjaan pertama saya sebagai freelancer langsung digaji ribuan dolar? Itu yang membuat saya semakin berani terjun ke kolam dunia freelance. Tapi Anda jangan senang terlebih dahulu. Setelah pekerjaan tersebut banyak pasang surut yang saya alami. Tidak ada pekerjaan, kosong pemasukan, dll. Mungkin akan saya bahas di lain tulisan suka duka menjadi freelancer.

Namun apabila mendapat “tangkapan besar” memang sangat terasa membahagiakan dan semakin yakin untuk tidak akan mengambil pekerjaan kantoran lagi.

Alasan #4 Pola Hidup yang Berbeda

Ini tantangan menurut saya. Bayangkan, sejak kecil saya sudah terbiasa hidup (di)disiplin(kan) bahwa aktivitas utama seperti belajar dan bekerja dimulai dari pagi hingga sore. Saya sekolah berangkat pukul 7 pagi hingga sore hari. Saya melihat ayah saya berangkat kerja pagi dan pulang di sore hari. Hingga kuliah pun saya masih menjalani rutinitas yang kurang lebih sama. Apakah saya akan melanjutkannya hingga saya tua?

Saya merasakan menjadi seorang freelancer adalah tantangan baru. Saya harus mendisiplinkan diri saya sendiri dengan pola waktu kerja yang sangat berbeda dan fleksibel. Saya tidak bilang saya workholic. Tidak, saya tidak suka begadang. Bahkan saya bekerja tidak sampai 8 jam sehari. Saya hanya tidak bekerja di pagi hari hingga sore hari. Seperti yang saya tadi sebutkan bahwa di waktu pagi hingga sore saya harus membagi waktu dengan istri untuk mengurus anak. Hal tersebut menjadikan saya harus mengambil jam kerja yang tidak biasa. Seperti apa? Saya mulai bekerja di pagi buta hingga menjelang subuh. Kadang saya mencuri waktu di pagi dan siang. Di malam hari saya melanjutkan bekerja hingga maksimal pukul 9 atau 10. Sebab saya harus bangun di pagi buta maka dari itu saya harus tidur juga di awal waktu.

Sangat tidak biasa, bukan? Sangat berat untuk dijalankan pada awalnya. Saya juga harus berdamai dengan fleksibilitas waktu bekerja sebab tidak semua jadwal yang sudah saya tentukan akan berjalan sebagaimana mestinya. Ada saja halangannya.

Namun saya bersyukur dengan jam kerja yang seperti itu. Banyak manfaat yang saya rasakan dengan pola tidur awal dan bangun awal.

Sampai Kapan Mau Jadi Freelancer

Minimal sampai istri saya lulus kuliah atau bahkan mungkin sampai tua nanti. Sejujurnya saya masih penasaran bagaiamana rasanya bisa bekerja dalam tim di suatu perusahaan. Pengalaman apa saja yang saya dapatkan dari sana. Namun saat ini saya juga merasa masih banyak yang belum saya dapat dari karir sebagai freelancer saat ini. Melihat umur karir saya masih sangat muda. Perkembangan karir pemrograman saya juga sangat terbantu saat saya mulai aktif di komunitas Frontend Indonesia. Banyak hal yang saya rasa “wah masih jauh juga ya perjalanan karir pemrograman saya” setelah saya bergabung di sana. Anda juga bisa ikut bergabung, bertemu, dan berdiskusi dengan para developer kelas atas di sana. Klik di sini jika ingin bergabung.

How do you like this article?
2

© 2024 hanihusam. All rights reserved.